A Walk Time

BreakUpWeanOff

***

Written by @ACC_Icha

***

 

The Sun is Going down
You’ll be right.

Sora mungkin sadar kedatangannya ke tempat ini akan membawa sedikit masalah baru untuknya dan Jiyong khususnya. Mereka masih disuluti emosi yang tinggi pasca pertengkaran kemarin di salah satu kafe yang letaknya berdekatan dengan kampus gadis itu.
Setiap hal yang dilakukan oleh Sora tentu saja memiliki alasan yang seribu kali difikirkan oleh Sora sendiri. Dari sekian banyak hal yang sudah difikirkan oleh Sora inilah satu-satunya hal terberat yang pernah ia fikirkan. Ya tentu saja selain skrispsi sialan yang menyita banyak waktu senggangnya, dengan pemikiran-pemikiran ilmiah.
“sweety, long time no see you. Apa kabarmu ?”
Sora menghela nafas berat, ketika Jiyong baru saja selesai mengecup dahinya lembut. Sora mengerjapkan matanya menyadarkan sesuatu jika perasaannya tidak boleh lagu membuatnya ragu. Tidak untuk sekarang ketika ia merasa mungkin sedang benar-benar resah dan gelisah. Continue reading

Bitter-Sweet

romantic-sweet-love-wallpaper-1-1-s-307x512

Written by @isnitia

***

 

“Sora Onni, Apa yang harus aku katakan pada pria itu?”
Mendapat pertanyaan itu, untuk kesekian kalinya, Sora hanya bisa mendegus seperti orang yang kelelahan. Tentu saja. Gadis bernama Haneul ini sudah berulang kali bertanya dengan pertanyaan yang sama sejak mereka berdua duduk di cafe ini dua jam yang lalu. Sora sudah berulang kali mengatakan agar Haneul segera minta maaf pada pria yang dimaksud, tetapi Haneul masih saja mengelak dan terus bertanya.

“Aku sudah mengatakan padamu. Katakan ‘Kyuhyun, kau benar. Aku yang bersalah. Jadi, maafkan aku’ seperti itu saja. Mengapa kau susah sekali mengatakan maaf?” Sora mengatakannya dengan sedikit kesal. Dia menyesap kopi kesukaannya. Merasakan  ice capuccino pesanannya kali ini begitu nikmat, setidaknya menenangkan hatinya barang sejenak dari kerewelan gadis di depannya ini.

“Kau tahu kalau aku tidak pernah bisa meminta maaf padanya. Dia pasti akan menertawaiku.”

“Memangnya kalian tidak pernah bertengkar sebelumnya?”

Haneul menggelengkan kepalanya dengan pelan, membuat Sora hanya bisa membulatkan matanya. Sora terlihat kesal juga merasa kasihan pada juniornya ini. Haneul dan Sora berkuliah di universitas yang sama, juga di jurusan yang sama. Kertertarikan mereka akan budaya Korea membuatnya semakin dekat. Mulanya hanya minum kopi bersama sambil membicarakan sejarah Korea atau kerajaan-kerajaan Korea di masa lalu. Sekadar berbicara untuk tugas kuliahnya. Akan tetapi, seiring berjalan waktu, kedua gadis itu malah mengobrol tentang ini itu. Mulai dari permasalah perempuan biasanya sampai membicarakan tentang kekasih mereka.

“Pernah. Beberapa kali, tetapi tidak sampai seperti ini,” sela Haneul seperti meralat jawabannya. Continue reading

THE CONCUBINE

tumblr_lzm1ouTIt11qa81t2***

            October, 31st  2013, Poly Café, Mapo-gu, Hongdae, 4PM

            Ji-yong kembali menyesap moccacino yang telah dipesannya sepuluh menit yang lalu demi mengusir hawa dingin yang tiba-tiba mengepung tubuhnya, meskipun tubuh kurusrnya itu telah terbungkus rapi dalam balutan mantel tebal warna hitam yang dikenakannya saat ini, namun tetap saja hawa dingin musim gugur tersebut mengepungnya. Setengah jam sudah pria itu menghabiskan waktunya untuk duduk di sudut ruangan café, menanti seseorang yang sudah dua minggu tak dilihatnya. Seseorang yang selama dua minggu menghilang tanpa kabar dan membuatnya harus melewatkan dua minggu terburuk selama hidupnya karena terjebak dalam rasa cemas yang mendalam.

            Ji-yong tahu, bahwa Jang So-ra, kekasihnya, gadis yang bulan depan akan resmi menjadi istrinya itu adalah tipe gadis keras kepala, yang tidak bisa mengalah begitu saja, yang tidak pernah membutuhkan bantuan orang lain, bahkan perhatian Ji-yong sekalipun selalu tak pernah membuatnya luluh. Ji-yong paham bahwa gadis seperti So-ra akan mampu bertahan dan baik-baik saja dimanapun gadis itu saat ini berada, namun Ji-yong tetap saja tidak pernah bisa berhenti merasa cemas saat gadis itu tiba-tiba menghilang dua minggu yang lalu, meskipun akhirnya pria itu bisa bernafas dengan lega saat malam yang lalu So-ra menghubunginya dengan suara penuh nada gembira, memintanya untuk bertemu sore ini di café tempat mereka biasa bertemu.

            Wajah So-ra kini berkelebat dengan amat sangat jelas dalam benak Ji-yong saat pria itu mengalihkan tatapannya ke luar jendela café, menatap hamparan daun kering yang tergeletak begitu saja di atas jalanan beraspal, menutup dengan sempurna setiap incinya. Menatap hamparan dedaunan yang menutupi setiap inci jalanan beraspal itu mengingatkan Ji-yong pada So-ra, pada seberapa cintanya gadis itu pada musim gugur.

            Mereka bertemu awal musim semi dua tahun yang lalu di sebuah pameran di National Palace Museum of Korea tempat So-ra bekerja sebagai Kepala Kurator. Kala itu, awalnya Ji-yong tidak berniat sama sekali untuk datang, pria itu bahkan menolak saat ibunya meminta untuk menemaninya. Ji-yong bukan tipe pria yang rela membuang-buang waktunya hanya untuk sekedar mengelilingi sebuah museum sambil mengamati benda yang bahkan tidak pernah membuatnya tertarik sedikitpun. Sejak dulu, saat masih menjadi seorang siswa, Ji-yong selalu tak mampu bersahabat dengan Sejarah. Namun, demi menghindari ocehan panjang ibunya kala itu, Ji-yong pun terpaksa mengantarnya. Dan di sanalah mereka berdua bertemu, tepat saat gadis itu sedang memberikan pidato sambutannya. Continue reading

CHILDISH KYU, STUPID SORA

CKSS

***

Okay, sebelumnya, siapkan hati kalian semua buat baca FF singkat ini. Sesungguhnya (?) ending FF ini bikin syok dan sesuatu banget (menurut saya) 😀

Happy reading guys!

***

                Seong Su-cheong, Bukchon Area, Seoul, KyuRa’s House, 11th January, 2AM

Suara pintu geser yang tertutup sempurna oleh lapisan hanji putih itu terdengar dibuka dengan paksa, menimbulkan bunyi berisik yang seolah mempertegas raut kesal yang terumbar dari setiap lubang pori-pori tubuh pria tinggi berbadan tegap yang beberapa saat lalu membuka pintu geser tersebut. Pria tinggi itu kini menghempaskan tubuhnya di atas lantai ondol rumah bergaya hanok yang terasa hangat sambil memejamkan kedua matanya, berusaha membuang rasa lelah dan takut yang kini justru seolah menguap, tergantikan oleh luapan rasa kesal pada sosok gadis yang setengah jam lalu tak bereaksi apapun terhadap apa yang diucapkannya di telepon.

Suara pintu geser itu kembali terdengar untuk yang kedua kalinya, pria tinggi itu menolak untuk membuka kedua matanya, sadar sosok gadis menyebalkan itulah yang telah menggeser pintu tersebut.

Gadis itu berdiri di ambang pintu geser, menatap sosok pria tinggi yang masih menolak untuk membuka matanya. Continue reading

FOOTPRINTS

12931435-man-and-woman-colorful-shoe-footprints-illustration-collection-background-vector

***

Berjalan di sisi jejak kaki milik So-ra yang tercetak sempurna di sepanjang jalan menuju To-mak yang dipagari oleh ratusan pohon pinus, menjadi satu-satunya hal paling benar yang mampu aku lakukan untuk tetap mencintainya. Karena, tak peduli seberapa besarnya isi kepalaku memaksa lidah untuk melontarkan kalimat pengakuan padanya, dinding penghalang itu tetap berdiri kokoh, menolak untuk aku robohkan.

***

Hanyang, 1780, 4th Years of Jeongjo Reign, Jang’s Family House

Jang Ok-jeong, wanita anggun yang telah menyandang nama depan suaminya, Jang Byun-shik selama lima tahun terakhir itu kini telah selesai memasangkan samo[1] di puncak kepala suaminya. Setelah samo itu terpasang sempurna, kini dengan gerakan lembut wanita anggun itu mengusap pelan kedua bahu suaminya, kembali memastikan bahwa tak ada sedikitpun kerutan tercetak di dalryeongpo[2] warna merah yang melekat di tubuh tegap suaminya. Sebuah senyuman tipis tergurat di wajah cantiknya begitu ekor mata sehitam buah zaitunnya itu menangkap sulaman sempurna sebuah harimau tercetak di baju kebesaran suaminya, menandakan seberapa pentingnya posisi suaminya tersebut bagi Joseon.

“Semuanya sudah selesai Daegam[3],” layaknya suara setiap wanita terhormat Joseon, nada suara Jang Ok-jeong pun terdengar lembut dan santun.

Gomapsu Puin[4],” Jang Byun-shik membalas dengan senyuman tergurat di wajah bijaknya.

Tangan kokoh Jang Byun-shik kini beralih pada perut istrinya yang tampak besar di balik chima[5] warna biru yang dikenakannya, mengusap janin yang kini telah berusia tujuh bulan, janin yang menjadi rahasia keluarga mereka saja.

“Bagaimana kondisimu Puin? Apa kandunganmu baik-baik saja?” Mata Jang Byun-shik kini menatap lekat kedua manik mata istrinya, raut cemas tergambar jelas, tangan kokohnya masih tak mau beranjak dari perut yang tersembunyi dibalik chima tersebut.

“Pasti berat bagimu untuk melakukan semua ini, menyembunyikan darah daging kita sendiri di saat orang lain dengan bangga menunjukkannya pada setiap orang,” nada suara pelan dan penuh penyesalan itu terlontar dari mulut Jang Byun-shik, membuat Jang Ok-jeong tertunduk sejenak.

Bagi seorang ibu, menyembunyikan kandungannya di saat ibu yang lain dengan bangga menunjukkannya pada setiap orang tentu adalah sebuah tindakan paling menyakitkan. Tapi sebagai seorang istri Menteri Pertahanan Joseon yang paham dengan semua konsekuensi membahayakan bagi keluarga mereka, dengan semua musuh yang tidak pernah menyukai tindakan tegas suaminya yang selalu mendukung keputusan bijak Raja Jeongjo, Jang Ok-jeong paham bahwa apa yang saat ini sedang mereka berdua lakukan adalah semata-mata demi bayi dalam kandungannya. Jika pihak musuh mengetahui tentang kondisi kehamilannya, maka dengan senang hati mereka akan menghunuskan pedang dan menyampirkannya di leher Jang Ok-jeong. Maka dengan semua alasan tersebut, Jang Ok-jeong tahu bahwa dia tidak harus mempermasalahkan apapun, yang kini harus dilakukan olehnya adalah menyembunyikan tonjolan besar dalam perutnya tersebut dari pandangan orang-orang. Continue reading

MYSTERIOUS GUY, NEXT DOOR

2

***

Title           : Mysterious Guy, Next Door

Author     : Sam / @ACC_Icha

Genre        : Romance

Length      : Oneshot

So-ra membuka pintu kamarnya dengan kasar. Jam di kamarnya membuktikan jika ia benar-benar telat hari ini. Tangannya sudah menggenggam seluruh naskah yang harus ia serahkan kepada penulis skenario project film selanjutnya.

“Oh, ayolah, mengapa lift ini sangat lama untuk sampai di lantai 12 ini?” Racau So-ra sambil sesekali matanya melirik jam tangan yang ada di pergeelangan tangannya. “Aku mohon cepat, Park sajangnim akan membunuhku jika jam 8 aku belum sampai di tempat rapat,” kata So-ra lagi.

Tangannya yang lolos tanpa menggenggam apapun kini mengacak rambut coklatnya, membiarkan terbang tanpa berpindah tempat.

“Telat lagi ?” Sapa seseorang yang membuat So-ra menatapnya.

“Apa lagi? Cih! Aku kira hanya aku yang telat, ternyata kau juga!” Cibir So-ra kepada orang itu, yang disambut dengan senyuman khas.

“Bagaimana tawaranku semalam?” Tanya orang itu, So-ra diam.

“Jawablah, setidaknya aku butuh kepastian, karena jika kau menolak aku akan mencari gadis lain yang mau denganku.”

So-ra melongo, tidak menyangka seseorang itu, Kyuhyun namanya akan menyampaikan serangkaian kata yang menurutnya tidak dimasuk akal.

“Bagaimana bisa kau menyatakan cinta kepada seorang gadis namun dengan diimbuhkan kalimat seperti itu?”

Kyuhyun tersenyum, So-ra menatapnya. Seandainya saja So-ra fokus kepada lift yang tadi ia tunggu untuk turun ke lantai dasar sudah melaluinya, pasti gadis itu akan marah besar kepada Kyuhyun.

“Tentu saja aku harus melancarkan kalimat itu So, agar kau merasa harus cepat menerimaku, jika tidak mau melihatku bersama gadis lain.”

Sora berjengit, “licik!” Kata So-ra cukup keras.

Kyuhyun suka bagaimana gadis itu kesal karena ulahnya. Kyuhyun juga suka bagaimana ia berdebat dengan So-ra mengenai hal yang tidak penting. Kyuhyun selalu suka semua waktu yang dihabiskan bersama So-ra meski hal yang tidak diinginkannya yang selalu terjadi.

“So, kapan kau akan turun? Ini sudah lift ke 3 yang kau lewati.”

Sora membesarkan matanya, lalu menatap jam tangannya lagi.

“Sial!” Kata So-ra sambil kembali mengacak rambutnya.

Kyuhyun tersenyum, tangan lentiknya mencoba merapikan rambut yang diacak So-ra tadi. Dada So-ra meriak-riak senang, entah alasannya apa. Efek yang diberikan oleh kyuhyun benar-benar membuatnya membeku di tempat.

“Gadisku tidak boleh berpenampilan acak-acakkan seperti ini,” Kata Kyuhyun. So-ra sulit menjabarkan apa yang dimaksud Kyuhyun, jika saja suara lift yang terbuka tidak menyadarkannya, mungkin ia masih terjebak di antara aura yang belum pernah ia rasakan.

“Ingat! Urusan kita belum selesai!” So-ra mengacung-acungkan jari telunjuknya meski tubuhnya sudah berada di kotak lift.

“Tentu saja nona, kalau urusan kita sudah selesai, tentu kita tidak perlu bertemu lagi, dan itu nampaknya tidak menguntungkan pihakku!” Kata Kyuhyun cepat kemudian berbalik. Masuk ke dalam apartementnya lagi. Senyumnya masih merekah.

So-ra memukul dadanya, berharap detakkan jantung yang tak berdetak sesuai frekuensinya itu kembali normal. Ia masih bertanya-tanya mengapa respon jantungnya tidak sesuai dengan apa yang ia fikirkan. Dan So-ra benci posisi ini menjadi posisinya. Continue reading